“Kritikus Nasional Maman S. Mahayana Mengapresiasi Karya Musik, Puisi, dan Cerita Kehidupan Kepala Perpustakaan Pusat Universitas Pakuan”

"Kritikus Nasional Maman S. Mahayana Mengapresiasi Karya Musik, Puisi, dan Cerita Kehidupan Kepala Perpustakaan Pusat Universitas Pakuan"

🕗 Source: Perpustakaan Pusat | 📜 Editor: Ferry Budianto S.Kom

Ilustrasi: Kritikus Nasional Maman S. Mahayana Apresiasi Karya Musik-Puisi-Cerita Kehidupan S. Mubarock

Ilustrasi: Kritikus Nasional Maman S. Mahayana Apresiasi Karya Musik-Puisi-Cerita Kehidupan S. Mubarock

UNPAK  — Kritikus sastra nasional Maman S. Mahayana memberikan apresiasi terhadap karya kreatif S. Mubarock yang mengusung konsep “Musik-Puisi-Cerita Kehidupan”. Apresiasi tersebut disampaikan dalam pengantar diskusi “Bincang Karya S. Mubarock: Musik-Puisi-Cerita Kehidupan” yang diselenggarakan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Pakuan di Gramedia Botani pada 22 Mei 2026.

 

Dalam catatannya, Maman menilai karya S. Mubarock menghadirkan perpaduan unik antara musik, puisi, dan pengalaman hidup yang dibangun secara personal dan emosional. Ia menegaskan bahwa Mubarock tidak sekadar membuat musikalisasi puisi, tetapi mencoba menghadirkan sebuah bentuk ekspresi yang menyatukan irama musik, teks puisi, serta cerita kehidupan dalam satu kesatuan utuh. 

Menurut Maman, karya tersebut tidak hadir untuk mendobrak genre musik tertentu ataupun menunjukkan superioritas puisi, melainkan sebagai ruang kreatif yang merepresentasikan pengalaman manusia, terutama tentang masa kecil, keluarga, cinta, kehilangan, dan kenangan hidup. Ia menyebut bahwa kekuatan karya Mubarock terletak pada keberanian menghadirkan pengalaman sederhana menjadi sesuatu yang memiliki nilai artistik dan emosional.

Maman juga menyoroti bagaimana puisi dalam karya Mubarock menjadi bagian penting yang diperkuat oleh irama musik. Ia menilai hubungan antara musik, puisi, dan cerita kehidupan dalam karya tersebut dibangun secara integral sehingga pesan emosionalnya terasa lebih kuat kepada pendengar.

Dalam ulasannya, Maman membandingkan pendekatan kreatif tersebut dengan sejumlah musisi dan penyair besar seperti Rhoma Irama, Ebiet G. Ade, Iwan Fals, hingga Bob Dylan yang dikenal memiliki kekuatan lirik dan pesan sosial dalam karya-karyanya. Namun demikian, ia menegaskan bahwa karya Mubarock bukan untuk menyaingi nama-nama besar tersebut, melainkan sebagai langkah awal membangun kreativitas dan identitas berkarya sendiri.

Selain mengapresiasi gagasan karya, Maman juga menilai tema-tema yang diangkat S. Mubarock sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Beberapa karya seperti “Ibu si Aku”, “Masa Kecil”, “Tentang Perasaanku Waktu Itu”, hingga “Remuk Redam” dinilai mampu menghadirkan nostalgia, luka batin, cinta keluarga, dan pengalaman emosional yang mudah dipahami publik.

Bagi Maman, keberanian S. Mubarock menghadirkan karya lintas ekspresi ini patut diapresiasi karena menjadi bentuk kreativitas baru yang menggabungkan sastra, musik, dan refleksi kehidupan dalam satu medium artistik. Ia berharap karya tersebut dapat menginspirasi banyak orang untuk terus berkarya dan berani membuka jalan kreativitas baru di dunia  seni Indonesia. 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *